Kenapa Bukan Dinar dan Dirham?

 Islam tidak mengenal apa itu uang kartal atau giral. Dunia islam hanya mengenal  uang dirham dan dinar atau kalau boleh kita sebut emas dan perak. Lantas kenapa uang kartal dan giral yang selama ini dipakai, adakah yang salah dengan emas dan perak? Faktanya ketika emas menjadi dasar  devisa pencetakan uang, keuangan dunia sangat  stabil dan tingkat inflasi kecil, tetapi hal ini tidaklah berlangsung ketika Presidon Nixon mencabut standardisasi ini  pada tahun 1971. Mulai saat itulah, uang yang kita kenal sebagai uang zaman sekarang terus mengalami ketidakstabilan. Dengan demikian, ekonomi yang berbasis dengan uang yang demikian adalah bisa disebut ekonomi spekulatif dan ekonomi semacam inilah yang rentan karena laiknya  balon, terlihat besar atau banyak tetapi dalamnya kosong dan dapat pecah sewaktu-waktu. Mengenai  penjelasan rinci bagaimana proses penetapan oleh dollar Amerika yang tidak berbasis emas akan dijelaskan di lain kesempatan.

Oke, kenapa  uang “masa kini” itu tidak stabil? Ilmu ini saya dapat ketika saya mendapat mata kuliah manajemen keuangan. Ada satu konsep yang menurut saya amat menarik yaitu tentang nilai waktu uang (time value of money). Konsep ini, menyatakan sebagai contoh bahwa nilai uang satu juta saat ini akan  berbeda dengan nilai uang satu juta 10 tahun yang akan datang atau bahkan 20 tahun yang akan datang. Dalam perhitungan time value of money, semua ini karena satu hal yaitu inflasi. Jika kita anggap bahwa inflasi itu analog dengan bunga dan tingkat inflasi kita asumsikan fixed di 10% per tahun, dengan menggunakan table anuitas  maka uang sepuluh juta saat ini akan sama nilainya dengan uang sebanyak  2.594.000. Dapatkah anda bayangkan barapa selisihnya? Yang menjadi sorotan utama adalah inflasi. Iya, karena dialah yang menyebabkan nilai uang saat ini tidak sama dengan nilai uang yang akan datang. Dalam ilustrasi kita asumsikan bahwa inflasi itu konstan di angka 10%, dalam dunia nyata hal itu tidaklah benar. Inflasi selalu tidak konstan yang menyebabkan perekonomian itu tidak stabil.

 Kemudian, bukankah cukup jika saya hanya menyatakan  bahwa Inflasi-lah sang biang kerok ketidakstabilan  perekonomian, Kenapa harus ada penjelasan konsep nilai waktu uang? Ada satu hal yang amat dilarang dalam Islam, yaitu riba dan timbulnya riba dalam perekonomian kita saat ini dapat dijelaskan melalui konsep tersebut. Kembali pada ilustrasi di atas, dimana sepuluh juta saat ini sama dengan 2, 59 juta pada sepuluh tahun yang akan datang, dengan demikian orang yang meminjami uang sebanyak 10 juta saat ini, tidak akan mau dibayar 10juta pada sepuluh tahun yang akan datang. Ia hanya akan mau dibayar 2,59 juta di masa yang akan datang. Inilah awal timbulnya riba, dimana orang membayar hutang dengan jumlah yang lebih banyak daripada ketika ia awal berhutang. Bukankah sepintas ini adil, uang dibayar sesuai nilainya? Tunggu dulu, saya mengasumsikan inflasi (bisa disebut bunga) itu ditetapkan di awal dan stabil di angka 10%, jika inflasi tidak setinggi itu maka nilai uang yang kita bayar sebesar 2, 59 juta di masa yang akan datang itu bernilai lebih tinggi daripada 10juta saat ini. Kita dirugikan, walaupun tidak menutup peluang inflasi akan lebih tinggi dari 10% dan si pemberi hutang yang dirugikan, jadi spekulatif. Inilah konsep bunga yang menyesatkan. Maka, Islam sudah mengatur bahwa jika berhutang 10 juta maka kembalikanlah 10 juta.

Loh, kok plin-plan bukankah nilai 10 juta saat ini berbeda dengan 10 juta di masa yang akan datang? Inilah topik yang ingin saya bahas. Topic yang mengetengahkan penggunaan emas dan perak sebagai mata uang atau bolehlah kita sebut “simpanan / investasi emas” dan pernyataan atas keunggulan atas keduanya.  Misal saya meminjamkan 10 gram emas kepada anda, dengan harga 1gram emas adalah 500.000/gram dengan demikian anda mendapatkan hutang sebesar 5.000.000, kemudian 10 tahun yang akan datang anda  membeli emas 10 gram seharga 6.000.000  jadi 1 gramnya seharga 600.000, dan ini digunakan untuk membayar hutang emas 10 gram sepuluh tahun yang lalu. Dengan demikian, tidak ada riba disini dan nilai emas 10gram yang 10 tahun itu (6juta) akan sama nilainya dengan emas  10 gram sebelum sepuluh tahun itu (5juta), karena yang perlu diingat nilai emas selalu tetap sehingga 6juta itu mencerminkan inflasi yang factual dari uang 5 juta di sepuluh tahun mendatang. Jadi tidak ada riba dan tida ada yang dirugikan di sini. Dengan demikian sistem emas menghilangkan sifat spekulatif (atau mungkin boleh kita sebut judi?) yang merupakan akar perekonomian yang tidak stabil

Sebagai penutup, saya tidak akan menyampaikan saran seperti “ganti rupiah dengan emas!, terlalu ekstrim saya pikir. Sebagai langkah kecil, paling tidak kita sendiri dalam berhutang ataupun berinvestasi memperhatikan pula  nilai emas. Langkah kecil agar  tercipta perekonomian yang lebih adil.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s