Corporate Social Responsibility (CSR) dan Pajak

oleh: Sholehudin Adi Nugroho/ Mahasiswa PKN STAN 2016

 

o-CORPORATE-SOCIAL-RESPONSIBILITY-facebook.jpg

 sumber: http://www.brandhook.com/keeping-a-lidl-on-corporate-social-responsibility/

Chapple, Wendy, & Moon Jeremy berusaha meneliti pengungkapan CSR yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan di negara-negara Asia. Riset ini tercantum dalam jurnal berjudul “Corporate Social Responsibility (CSR) in Asia: A Seven Country Study of CSR Web Site Reporting. Business and Society” yang mana hasilnya Indonesia berada di peringkat terbawah dalam pengungkapan CSR nya dibanding negara sampel lain seperti  India,  Malaysia, Philipina, Korea Selatan, Singapura dan Thailand. Pun, tax ratio Indonesia (yang dihitung dengan cara penerimaan perpajakan dibagi Gross Domestic Product) selama ini dikenal amat rendah, hanya berkisar di angka 17%-an, jauh lebih rendah dibanding negara-negara tetangganya. Apakah tax ratio ini berhubungan dengan tingkat disclosure CSR? Kemudian, mengingat ada perusahaan di Indonesia yang melakukan Tax Avoidance amat agresif akan tetapi dermawan dalam melakukan CSR dan ada pula yang sebaliknya maka pertanyaan tambahan selanjutnya dan berhubungan dengan pertanyaan sebelumnya adalah, apabila harus memilih salah satunya mana yang lebih baik?

Menjawab pertanyaan ini, ada dua teori yang bisa dikaitkan dengan kondisi di atas yaitu legitimate theory dan shareholder theory. dalam pandangan legitimate theory, CSR merupakan bentuk cara mendapatkan legitimasi dari masyarakat, adapun dalam shareholder theory, Stakeholder atau pemangku kepentingan adalah fokus dari shareholeder theory[1] Dengan demikian, sebagaimana dikatakan oleh Avi Yonnah, karena CSR sendiri adalah sebuah aktivitas bisnis yang legitimate (cara untuk mendapatkan legitimasi dari masyarakat) perusahaan harus bertanggungjawab secara sosial untuk mengurangi usaha tax avoidance-nya[2] jadi disini perusahaan bukan sekedar berusaha menekan cost demi kepentingan shareholder saja. Senada dengan pendapat Yonah, peneliti lain yaitu Porter and Kramer 2006 menyatakan:

“…The mutual dependence of corporations and society implies that both business decisions and social policies must follow the principle of shared value. That is, choices must benefit both sides. If either business or a society pursues policies that benefit its interests at the expense of the other, it will find itself on a dangerous path. A temporary gain to one will undermine the long term prosperity of both.”[3]

Dengan demikian diperlukan harmoni benefit dari perusahaan baik bagi shareholder maupun masyarakat.

Dari paparan di atas bisa terlihat bahwa secara ideal haruslah tercipta hubungan dimana apabila perusahaan semakin banyak melakukan CSR (dan ini dibuktikan melalui di-disclose-nya kegiatan CSR dalam Annual Report), semakin rendah pula Tax Avoidance yang dilakukan oleh suatu perusahaan. Terkait hal ini, beragam penelitian telah dilakukan dan hasilnya beraneka macam pula. Hasil penelitian yang menunjukkan adanya hubungan positif antara pembayaran pajak dengan CSR adalah penelitian oleh Lanis and Richardson (2011, 2013, 2015). Penelitian mereka menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat aktivitas CSR sebuah perusahaan maka semakin rendah tingkat agresivitas pajaknya[4] Penjelasan dari kesimpulan di atas adalah bahwa terkait kewajiban CSR, perusahaan seharusnya membayar pajak secara wajar sesuai hukum di negara manapun perusahaan beroperasi. Tax Avoidance dianggap oleh masyarakat sebagai tindakan tidak bertanggung jawab secara sosial (socially irresponsible) dan merupakan aktivitas yang tidak berlegitimasi[5]. Hal ini karena perusahaan dilihat masyarakat sebagai entitas yang tidak membayar pajak secara fair kepada pemerintah dan dengan demikian tidak membantu pembiayaan barang publik. Penelitian yang menghasilkan kesimpulan berlawanan dengan kesimpulan di atas dilakukan oleh Lutz Preuss dalam jurnalnya berjudul “Tax avoidance and corporate social responsibility: you can’t do both, or can you?”. Dalam penelitiannya yang menggunakan sampel perusahaan-perusahaan yang berdomisili di negara-negara tax haven yang memiliki tarif pajak rendah bahkan sampai 0%, secara mengejutkan terbukti melakukan CSR dengan baik[6]. Contoh hubungan negatif CSR-Tax Avoidance juga ditunjukan di Indonesia dimana Asian Agri, perusahaan yang mendapat penghargaan CSR Awards di tahun 2014, terbukti melakukan tax avoidance secara agresif (bahkan cenderung melakukan tax evasion) dengan cara melakukan transfer pricing yang terperinci dan sistematis sebagaimana tertera dalam dokumen mereka yang berjudul “AAA-Cross Border Tax Planning (Under Pricing of Export Sales” . Hal ini mereka lakukan dengan cara menjual produk minyak sawit mentah (crude palm oil) dalam harga di bawah market price kepada perusahaan afiliasi di luar negeri untuk dijual kembali dengan harga lebih tinggi kepada pembeli real.

 Menanggapi kausalitas negatif ini, sebenarnya bisa ditandingkan dengan hasil penelitian Luke Watson yang dituangkan dalam jurnal berjudul “Corporate Social Responsibility, Tax Avoidance, and Earnings Performance”. Konklusi yang berhasil didapat oleh Luke setelah melakukan penelitiannya adalah rendahnya social responsibility yang berimbas pada meningkatnya tax avoidance hanya berlaku apabila perusahaan memiliki earning performance yang rendah baik di saat itu maupun peramalan di masa mendatang[7] Apabila perusahaan memiliki earning performance yang baik sehingga mampu untuk membiayai pajak sekaligus CSR nya, hubungan yang terjadi adalah hubungan yang positif sebagaimana dijelaskan dalam penelitian-penelitian di awal. Sehingga bisa saja, Asian Agri yang memiliki hubungan negatif atau perusahaan-perusahaan lain bukan karena semata-semata kaena mereka melakukan CSR secara aktif sehingga semakin agresif dalam melakukan tax avoidance akan tetapi karena memiliki earning performance yang kurang baik. Dengan demikian, standing position saya disini adalah bukan lebih memilih CSR atau Tax Avoidance yang terbukti bukanlah sebuah buah simalakama akan tetapi kondisi dimana menguntungkan masyarakat sekaligus menguntungkan negara dalam hal ini dilakukan oleh DJP dalam rangka menghimpun penerimaan perpajakan yaitu perusahaan tetap meningkatkan CSR mereka agar bermanfaat bagi masyarakat sebagaimana legitimate theory di atas adapun kausalitas negatif yang timbul berupa meningkatnya agresifitas tax avoidance dihadapi dengan perbaikan earning performance. Dari sisi pemerintah, misalnya bisa saja dikontrol melalui penerbitan undang-undang yang memaksa perusahaan melakukan governance yang baik  undang-undang pemudahan investasi dan perizinan, atau undang-undang lain sejenisnya.

 Referensi:

[1] Gunawan, J., Djajadikerta, H.G., & Smith, M. (2009). An Examination of Corporate Social Disclosures in the Annual Reports of Indonesian Listed Companies.     Asia Pacific Centre for Environmental Accountability Journal, Vo. 15(No. 1), pp. 13-36
[2] Avi-Yonah, R.S. (2008), “Corporate social responsibility and strategic tax behavior”, in Scho ¨n, W. (Ed.), Tax and Corporate Governance, Springer-Verlag, Berlin and Heidelberg.
[3] Porter, M. E., & Kramer, M. R. (2006). Strategy and society: The linkbetween competitive advantage and corporate social responsibility. Harvard Business Review, 84(12), 78–92.
[4] Lanis, Roman, & Richardson, Grant. (2011). Corporate Social Responsibility and Tax Aggresiveness: An Empirical Analysis. J. Account. Public Policy
   Lanis, Roman, & Richardson, Grant. (2013 Corporate social responsibility and tax aggressiveness: a test of legitimacy theory. J. Accounting, Audit, and   Accountability. Emerald Group Publishing Limited
   Lanis, Roman, & Richardson, Grant. (2015). Is Corporate Social Responsibility Performance Associated with Tax Avoidance?.J. Bush Ethics.
[5] Lanis, Roman, & Richardson, Grant. (2011). Corporate Social Responsibility and Tax Aggresiveness: An Empirical Analysis. J. Account. Public Policy
[6] Preus, Lutz. (2015). Tax avoidance and corporate social responsibility: you can’t do both,or can you?. Corporate Governance: The international journal of business in society. Emerald Group Publishing Limited
[7] Watson, Luke.(2015) Corporate Social Responsibility, Tax Avoidance, and Earnings Performance. Journal of the American Taxation Association. University of Florida
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s