Derivatif dan Penghindaran Pajak yang Jarang Dipergunjingkan

oleh: Sholehudin Adi Nugroho/ PKN STAN  2016

 

o_1a3vsbpb11et2nkjcmv10ev1ne9rsumber:http://www.suara.com/bisnis/2016/02/01/213042/bei-resmi-reaktivasi-produk-derivatif-lq-45-futures

 

“The 900-pound gorilla in all the corporate tax shelter discussion – that practitioners do not want to talk about and the Treasury report mentions only obliquely – is derivatives… Derivatives turbo charge tax shelters.” – Sheppard (1999)

 

Ungkapan di atas adalah merupakan suatu bentuk ekspresi bahwa derivatif bukanlah merupakan tema populer yang ingin dibicarakan dalam dunia perpajakan. Dalam banyak sekali diskusi perpajakan(sampai banyaknya diibaratkan sebagaimana Gorila 900 pon) praktisi maupun  pemerintah tidak menginginkan pembicaraan mengenai derivatif. Sebenarnya apakah derivatif itu sendiri? dan kemudian aspek pajak manakah yang jamak diakitkan dengan derivatif ?

Menjawab pertanyaan di atas, mula-mula akan dijelaskan derivatif. Donohoe (2011)  menyebutkab secara singkat sebagai berikut:

“any security deriving its value from one or more primitive securities could be referred to as a derivative”

Adapun penjelasan yang komprehensif, sebagimana dijelaskan oleh Stulz (2004)

 “financial contract or security deriving its value based on its relationship to something else, typically referred to as the underlying). The underlying is often another financial instrument (i.e., primitive security) or economic good (i.e., commodity), but can be almost anything. For example, derivatives exist where the value is based on the S&P 500 index, the price of oil and fertilizer, the amount of frost in Florida, and even other derivative instruments’

Dengan demikian, secara singkat derivatif itu sendiri adalah suatu sekuritas yang berhubungan dengan sesuatu yang menjadi underlying (yang menjadi dasar). Dasar disini bisa itu instrumen keuangan atau komoditas ekonomi. Sebagai contoh, apabila kita menilik dalam laporan keuangan suatu perusahaan, derivatif dapat terlihat dalam CALK nya (catatan atas laporan keuangan) secara umum meliputi Future, Option, atau Swap walaupun seiring perkembangan kreatifitas dalam produk-produk keuangan, derivatif ini bisa saja diturunkan kembali ataupun dicampuradukan antara ketiga komponen di atas.

Beranjak pada pertanyaan selanjutnya tentang aspek yang seringkali berhubungan dengan derivatif adalah perusahaan menggunakan derivatif dalam rangka me-maintain inherent risk nya maupun untuk manajemen cash flow. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Dwi Martani dan Oktavia (2013) maupun Danahoe (2011). Dalam penelitian mereka juga disebutkan selain kedua hal terpuji yang dilakukan di atas, penggunaan derivatif juga erat kaitannya (walaupun tak seerat fungsi sebelumnya) terhadap aspek perpajakan khususnya tax avoidance.

Hasil penelitian Danahoe maupun Dwi Martani menyebutkan bahwa penggunaan derivatif berhubungan positif dengan tax avoidance yang dilakukan suatu negara. Penggunaan derivatif yang mana karena rumit sehingga sukar terdeteksi serta risiko yang berhasil dimaintain dengan baik sehingga mengurangi volatile daripada cash flow dan income menyebabkan tarif pajak efektif (ETR-Effective Tax Rate) dapat menjadi rendah jika dibandingkan apabila derivatif tidak digunakan. penghindaran ini semakin besar apabila perusahaan tersebut tidak terbuka dalam mengungkapkan transaksi derivatif tersebut dalam laporan..keuangannya.

Perbedaan antara penelitian Danahoe dengan Dwi Martani adalah, Danahoe melakukan penelitian tersebut dengan objek pajak di negara Amerika Serikat adapaun Dwi Martani melakukannya di Indonesia. Danahoe secara garis besar menyimpulkan bahwa ini semua terjadi karena otoritas pajak Amerika memiliki ambiguitas peraturan terhadap penerapan perpajakan derivatif adapaun Dwi Martani menyebutkan bahwa ini terjadi karena pemerintah Indonesia bahkan tidak mengatur mengenai transaksi derivatif dalam aspek perpajakan. Sebenarnya hal ini telahlah diatur dalam Pemerintah Nomor 17 Tahun 2009 tentang Pajak.Penghasilan.atas.Penghasilan.dari Transaksi Derivatif Berupa Kontrak Berjangka yang Diperdagangkan di Bursa akan tetapi dalam uji material yang diajukan oleh Asosiasi Pialang Berjangka Indonesia dan Ikatan Perusahaan Pedagang Berjangka Indonesia, tuntutan ini berhasil dikabulkan oleh Mahkamah Agung dan Peraturan Pemerintah ini pun ditarik kembali.

Menutup Essay, maka disimpulkan bahwa memang ada hubungan nyata dan korelasi positif antara penggunaan derivatif dengan tax avoidance yang dilakukan. Dengan demikian, peran pemerintah pada umumnya dan Direktorat Jenderal Pajak secara khususnya haruslah meng-enforce kembali peraturan mengenai derivatif ini agar dapat timbul kembali. Amerika Serikat saja, yang memiliki peraturan mengenai derivatif (walaupun ambigu) masih menyisakan celah untuk tax avoidance akibat derivatif yang semakin hari semakin rumit dan sukar dideteksi aspek perpajakan apalagi kalau kita lepas tangan begitu saja.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s